Written by 

Menjadi Penjelajah #Rempah

Perempuan pedagang rempah di sebuah pasar tradisional.
Perempuan pedagang rempah di sebuah pasar tradisional.

Saya mencoba mengingat kembali persepsi saya terhadap rempah-rempah ketika masih kanak-kanak dan remaja dulu. Suatu momen di mana saya duduk dengan manis mendengarkan penjelasan tentang rempah-rempah yang menjadi komoditi di masa penjajahan.

Sulit buat saya ketika itu untuk memahami arti dan peran penting rempah-rempah yang cuma saya anggap sebagai bumbu masakan yang murah dan mudah didapat di warung tetangga. Tentang lada, pala, kayumanis, dan berbagai rempah lainnya yang telah mendorong kedatangan orang-orang dari berbagai belahan dunia datang ke Nusantara. Kisah-kisah petualangan hebat para penjelajah dan penjajah kulit putih yang melintasi separuh bumi. Perdagangan internasional. Peperangan. Kolonialisme. Ah, gila juga melihat keterkaitan banyak hal dengan rempah. Saya membayangkan bagaimana kemudian ambisi terhadap rempah telah menimbulkan begitu banyak konsekuensi yang mengubah wajah dunia.

Tetapi tentu saja jika saya mencoba menyadarkan diri lebih mendalam, ini bukan cuma soal rempah dengan beragam bentuk yang selalu saya pandang ganjil, bau, kasar, dan - ya, harus saya akui juga kalau dulu saya pernah menganggap rempah - hal yang sedikit menjijikkan karena bentuknya yang asing. Aneh memang, saya yang bocah asli dari orangtua Jawa yang begitu akrab dengan rempah, malah berjarak dengan rempah. Padahal, rempah menyimpan hal yang melebihi wujud: soal rasa dan aroma. Tanaman surga yang memberikan kita kebahagiaan terhadap kelezatan terhadap suatu cita rasa hidangan. Komoditi yang membuat kita berfantasi akan hal surgawi. Mungkin. Segenggam jahe yang memberikan sensasi hangat di tubuh kala dingin. Lada dan cabai dengan sensasi pedas yang meningkatkan nafsu makan. Wangi kayu manis... Harumnya getah-getah kemenyan yang dibakar untuk memanggil ruh. Sesajen! Kretek. Atau resep-resep masakan dan rahasia tentang khasiat rempah bagi pengobatan, birahi, dan bahkan pemujaan dewa-dewi. Rempah menjangkau urusan lidah dan perut, tetapi pula seni, tradisi, dan spiritualitas yang mempengaruhi peradaban.

Fakta menarik lain membuat saya kemudian mulai paham. Sebagian besar rempah, terutama yang paling berharga, ternyata hanya tumbuh di daerah tropis. Pulau-pulau dengan tanah subur dan pemandangan gunung api yang menakjubkan: Nusantara. Di tengah hutan belantara. Di tepi pantai dengan hembusan sepoi angin dari samudera.

Selalu diceritakan betapa negara kita adalah korban penjajahan, tetapi hampir jarang diungkit betapa kita sebetulnya pernah (dan mungkin saja kembali) mengontrol perdagangan dunia melalui produksi rempah. Bahwa istana dan pembangunan fisik megah yang ada di berbagai kota maju di Eropa sana dibangun melalui juga kontribusi rampasan dan perdagangan rempah-rempah.

Maka setelah membaca buku Sejarah Rempah: Dari Eksotisme sampai Imperialisme (Komunitas Bambu, 2011) karya Jack Turner, saya semakin tertarik lagi mendalami rempah-rempah pada setiap perjalanan mengelilingi Indonesia dan mungkin keluar wilayah NKRI ini.

Saya masih coba meraba-raba yang hendak saya lakukan terkait rempah, tetapi setidaknya saya yang gemar menulis ini jadi memiliki ide yang bisa mulai dikumpulkan tentang beragam kisah dan mungkin saja dongeng tentang rempah yang di dalamnya bisa saya temukan peri-peri dengan serbuk ajaibnya. Untuk sementara ini, soal rempah saya mendedikasikan khusus akun Instagram saya (@penjelajah_rempah) sebagai langkah yang sedang saya tapaki untuk terus melangkah tanpa tujuan menelusuri rempah. Kalau di Instagram tersebut lebih dominan soal foto-foto makanan, hehehe... Wajar saja karena makanan pun punya banyak makna di balik proses memasaknya serta rasa dan aroma.

Kelak saya bercita-cita untuk bisa segera mengunjungi Ternate dan Tidore serta terus menjelajah dan menelusuri tentang rempah dan kehidupan di wilayah yang tanpa batas.

socialshare

share on facebook share on linkedin share on pinterest share on youtube share on twitter share on tumblr share on soceity6